Menu Close

Don’t Ingnore Me that Knowledge Said || Jangan Buat Celah yang Lebar Antar Ilmu (Bilingual)

[IND]

Selamat malam sahabat steemian semuanya, bagaimana kabarnya? Semoga semuanya baik-baik saja dan selalu sanggup menjalankan aktivitas kesehariannya di dunia nyata maupun di dunia maya.

source

Beberapa waktu yang lalu saya masuk ke laboratorium untuk melakukan penelitian tentang beberapa bahan kimia lingkungan. Selama melakukan penelitian saya sempat berdiskusi banyak hal dengan pembimbing sehingga berakhir pada sebuah kesimpulan terlanjur salah yang berkembang dalam masyarakat, khususnya di Aceh yaitu,

Geutanyoe hana payah hayeu that lam donya karna syurga uroe akhirat, jadi sep hayeu ke akhirat mantong (Bahasa Aceh). Terjemahan: kita didunia ini tidak perlu terlalu hebat, karena syurga di akhirat nanti bukan di dunia ini.

Entah siapa yang menggagaskan kata-kata yang cukup berbahaya ini, sehingga efeknya terlalu besar yaitu orang malas belajar ilmu tentang dunia khususnya ilmu sains. Mereka menganggap belajar ilmu dunia tersebut hanya sebatas mati, kemudian tidak dipakai lagi. Kata-kata diatas juga berkembang dalam versi lain ketika zaman penjajahan dulu yaitu ketika orang-orang Indonesia menjadi percaya tidak akan bisa memiloti pesawat karena berkaki pendek, padahal buktinya sekarang semua bisa memilotinya.

source

Nah, kasus ini telah membawa dampak yang begitu luas, baik dikalangan anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa. Bukti yang paling nyata adalah sekolah hanya dijadikan sebagai tempat untuk mencari ijazah saja, agar diterima kerja nantinya. Hanya segelintir siswa yang benar-benar memahami hakikat ilmu yang sebenarnya, sehingga hanya mereka yang bisa hidup diperpustakaan selama berjam-jam.

Bila anda seorang guru di sekolah, maka pasti akan sangat menjengkelkan melihat kelakuan siswa. Saya telah mencoba mewawancarai beberapa siswa yang saya ajarkan, sehingga ketika saya menanyakan hal tentang keinginannya belajar sains dan ilmu lainnya maka jawaban yang diberikan sangatlah mengecewakan, karena jawabannya adalah untuk apa kita pelajari ilmu dunia.

source

Kasus ini juga terjadi pada dunia mahasiswa ketika banyak orang yang rela menghabiskan masa produktifnya dengan berbagai kegiatan yang tidak bermanfaat. Padahal, sejujurnya masa menjadi mahasiswa adalah saat-saat menjemput pintu-pintu kesuksesan dengan mengekplorasi berbagai teknologi yang berkembang. Kebanyakan mahasiswa hanya menjadi penikmat tugas dan teknologi, sehingga hanya menyelesaikan permasalahan keintelektualannya bila diberikan sebuah kasus oleh dosen, bukannya mencari kasus sendiri untuk dipecahkan.

Sejujurnya bila kita memang paham tentang hakikat ilmu, maka ilmu sains, politik, sosial, seni dan sebagainya adalah berasal dari sumber yang satu. Bila kita memang mau kembali kepada fitrah ilmu dalam Islam maka sesuai dengan penjelasan-Nya didalam Al-Qur’an bahwa semua itu adalah bukti kebenarannya yang harus kita pelajari agar semakin yakin iman didalam hati akan kekuasan-Nya yang maha besar dalam mengatur alam semesta yang luas ini.

Betapa banyak orang-orang yang sadar akan keberadaan sang pencipta alam akibat menelusuri ilmu sains dan menemukan kecocokan dengan ajaran Islam. Hal ini terus berlanjut sepanjang zaman, sedangkan kita hanya belajar doktrin Agama saja tanpa membarengi dengan ekplorasi bukti empirisnya yang pada akhirnya menyebabkan iman menjadi  lemah, sebaliknya orang diluar agama Islam terlebih dahulu menemukan bukti empiris dan mencocokkan dengan Ajaran Agama sehingga iman mereka menjadi lebih kuat.

Inilah yang perlu kita review kembali pemahaman kita, sehingga orang-orang akan merasa penting dengan ilmu yang diajarkan disekolah. Sedikit demi sedikit pemahaman ini perlu kita ubah, sehingga orang-orang akan merasa butuh dan memiliki rasa hormat terhadap pengetahuan yang telah digali oleh para ilmuan.

Sekian artikel yang singkat ini, bila ada kontroversial ataupun pertanyaan mari kita diskusikan di kolom komentar. Kritik dan saran sangat kami butuhkan agar tulisan ini menjadi lebih sempurna. Terimakasih telah membacanya.

[ENG]

Good evening all, how are you? Hopefully everyone is fine and always able to run your daily activities in the real world and in cyberspace.

source

Some time ago I went into the Chemical laboratory to do research on some environmental chemicals. During my research I had discussed many things with the mentors so that it ended up in a conclusion already wrong that developed in the community, especially in Aceh that is,

Geutanyoe hana payah hayeu that lam donya karna syurga di akhirat, jadi sep hayeu di akhirat mantong (Bahasa Aceh). Translation: we in this world need not be too great, because heaven in the hereafter is not in this world.

I do not know who is the idea of ​​this dangerous enough, so the effect is too great that people are lazy to learn knowledge about the world, especially science. They consider learning the world of science is only limited to death, then not used anymore. The above words also evolved in another version when the colonial period was when the Indonesians became believers would not be able to pilot the plane because of short legs, but the evidence now can all to drive the plan.

source

Well, this case has brought such a wide impact, both among children, teenagers and even adults. The most obvious evidence is that the school is only used as a place to find a certificate only, to be accepted later work. Only a few of students really understand the true knowledge of science, so only those who can live in the library for hours.

If you are a teacher at school, then it would be very annoying to see the behavior of students. I have tried to interview some of the students that I teach, so when I ask about his desire to study science and other knowledge then the answer given is very disappointing, because the answer is to what we study the world of science, it’s not bring us to next life.

source

This case also occurs in the world of students at university when many people are willing to spend their productive lives with various activities that are not useful. In fact, frankly the time to be a student is the moment to pick up the doors of success by exploring the various technologies that develop. Most of the students only become connoisseurs of tasks and technology, so only solve the problem of intellectuality when given a case by the lecturer, instead of looking for his own case to be solved.

To be honest if we really understand about the nature of knowledge, such as science, politics, social, art and so forth is derived from one source. If we really want to go back to the nature of knowldge in Islam then in accordance with his explanation in the Qur’an that it is all proof of truth that we must learn to be more confident in the heart of the faith of His great power in regulating the universe that this area.

How many people are aware of the existence of the creator of nature by tracing the knowledge of science and finding compatibility with the teachings of Islam. This continues throughout the ages, whereas we only study the doctrine of Religion only without accompanying the exploration of its empirical evidence that ultimately causes the faith to become weak, otherwise people outside of Islam first find empirical evidence and match it with the Islamic religion Teachings so that their faith becomes stronger.

This is what we need to review our understanding, so that people will feel important with the science taught in school. Little by little this understanding needs to be changed, so that people will feel the need and have respect for the knowledge that has been unearthed by scientists.

This brief article, if there is a controversial or a question let us discuss in the comments box. Criticism and suggestions that I need so that this paper will be more perfect. Thank you for reading it.


Banda Aceh, 21 Juni 2018 ׀ @muktaridha


Sevenfingers discord || Indonesia Steemit Community discord

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *